Ilaahí
anta makshúdí waridlóka mathlúbi a’thini mahabbataka wama’rifataka
KETIKA
memasuki awal perkuliahan semester tiga, istilah hagiografi bagi penulis masih
sangat asing terdengar. Padahal sudah menjadi rutinitas bagi penulis dalam setiap
bulannya mendengarkan kisah-kisah sufi fenomenal
dengan berbagai karomah-nya, yaitu kisah
Syekh Abdul Qodir Jaelani. Apal rupa teu apal ngaran, pribahasa itu
nampaknya yang cocok menggambarkan kasus penulis tadi.
Namun
setelah mengikuti perkuliahan pertama, penulis mulai memahami bahwa hagiografi adalah kisah atau cerita
tentang keunggualan dan keunikan orang-orang pilihan Allah. Baik itu Nabi
ataupun para wali Allah Swt.
